Cinta berawal dari sebuah kata "terbiasa"

Ini adalah tulisan yang tercipta karena sebuah renungan  sederhana saya malam ini...


Cinta...
Bukan sekedar lima huruf yang tersusun menjadi sebuah kata. Bukan sekedar makna sebuah kata yang sederhana. Bukan sekedar satu rasa. Cinta adalah sebuah rasa yang tergabung dalam satu kata, sedih senang, suka duka, perasaan bersalah, kecewa, terabaikan. Tapi, mengapa masih banyak yang ingin merasakan cinta jika sudah tahu ujungnya pasti akan terluka, atau malah membuat luka? Cinta adalah sebuah labirin, tak ada yang bisa keluar hingga takdir yang mengeluarkannya. Lalu bagaimana jika ia terjebak dan hidup disana selamanya? Sendiri. Menangis tak ada yang tahu dan mengerti karena ia benar benar sendiri. Lalu mengapa banyak orang yang masih berani mencoba jatuh cinta?

Cinta datang tak terduga...

Ia bisa hadir dari orang yang selalu hadir mendengar cerita-ceritamu
Orang yang selalu mendengar keluh kesahmu
Satusatunya orang yang masih tinggal bahkan disaat terburukmu
Menjadi pendengar yang baik saat kau dikecewakan
Orang yang selalu membuatmu tertawa saat orang yang kau "sayangi"membuatmu terluka
Itu semua karena kau terbiasa akan hadirnya
Terbiasa berada didekatnya
Membuat rasa nyaman dan rasa butuh tumbuh diantara kalian

Ia bisa hadir dari orang yang paling kau benci
Orang yang selalu mengejekimu dengan sebut-sebutan paling kau benci
Orang yang selalu kau cerca bahkan saat ia menjadi yang terbaik
Orang yang selalu kau sebut dengan celaan terhina yang pernah ada
Pernahkah kau berfikir bagaimana jika ia tibatiba menghilang?
Rasa kehilangan itu ada.
Dan terkadang tumbuh dari sebuah cinta yang tak terucap


Ia bisa hadir dari orang yang tak kau kenal
Orang yang selalu melihatmu diam-diam
Orang yang dengan setianya selalu menungguimu setiap hari
Tersenyum saat kau tersenyum
Bahagia saat kau bahagia
Secret Admirer
Kau terbiasa denga suratnya
Kau terbiasa dengan hadiah hadiahnya
Kau terbiasa denga caranya memandangmu
Hingga ketika Ia pergi kau sadar
Kau telah jatuh cinta..

...

hahah.. yaahh itulah tadi postingan saya..
Cinta memanga jaib, mau bukti?
Cinta bisa membuat orang seperti teman saya (Nirwana Mustafa) yang terkenal pendiam bisa seperti cacing kepanasan. Dan Cinta juga bisa membuat orang seperti teman saya ( Andi Yulinar Ainun Riandika) Yang jika bicara sangat cepat dan tingkah yang sangat banyak. Bisa jadi sangat kalem didepan Idolanya xD. Cinta bisa mengubah malam menjadi Siang dengan cepat. Bisa menggantikan hujan menjadi Pelangi dengan seketika. Karena keajaiban Cinta tidak bisa diragukan. Ohiya  for the silent readers , Komentarnya ditunggu :D

Read this wahai para pemuja diam-diam

Semua orang pasti memiliki seseorang yang disukai secara diam-diam
Semua orang pasti memiliki seseorang yang menyukainya secara diam-diam
Memendam..
Sakit memang..
Karena memendam perasaan itu sama sulitnya dengan menahan kentut -_-"
Rumit.
Sulit
Tak mudah
Jika dikeluarkan juga akan malu._. kentut tentu saja! (mutmainnah nur rahma)
Melihat orang yang kamu sukai berjalan bersama orang yang ia sukai
Mendengar orang yang kamu sukai bercerita tentang pujaannya
Miris
Tapi, itulah resiko memendam
Ia tak tahu tentang perasaanmu padanya
Apa dia salah?
Tidak.
Itulah mengapa mengungkapkan diciptakan
Mengungkapkan sama dengan melepas kentut -_-"
Lega haha._.v
Seperti ada sesuatu yang menguap
saat pengungkapan terucap
Entah itu cepat
Atau lambat
Meski terkadang, resiko mengungkapkan akan sulit
Dijauhi
Keadaan berubah
Tak lagi bisa dekat dengannya
Tak lagi bisa menjadi tempat curhatnya
Banyak
Tapi, apa salahnya mencoba?
Siapa tahu?
Mungkin dia akan membalas perasaanmu..
Mengatakan hal yang sama
Sebenarnya memiliki perasaan yang sama
Banyak
Sekali lagi, apa salahnya mecoba?
mengungkapkan takkan membunuhmu
Mengungkapkan takkan membuatmu dihukum gantung
Jadi apa ruginya?
Kehilangan dia?
Belum tentu
Kalaupun iya
Heyy..
Mahkluk didunia bukan hanya dia saja*eh
Masih sangat banyakkk...
Ada saya, dia dan mereka

Kekuatan jarak tak pernah main-main kawan!

"Bagaimana, Apakah kau masih pacaran dengan pacarmu yang di L.A itu?"
"Iya, kenapa emang?"
"Tidak, Aku hanya salut padamu, sejauh itu dan kau masih bisa mengukuhkan jarak yang memisahkan kalian"
"Jarak bukan pemisah, Ia juga bukan pembatas"
"Tapi, kelak Ia pasti akan memisahkan kalian"
"Tidak, Aku percaya. Jaraklah yang akan mempertemukan kami"
"Mengapa kau bisa begitu percaya?, Apa kau tau sedang apa dia sekarang? sedang apa dia sekarang? tidak kan?"
"Tidak peduli apa yang sedang ia kerjakan, dan dengan siapa ia sekarang, Aku percaya padanya, begitupun dia padaku"
"Bagaimana jika dia selingkuh disana?"
"Tidak masalah, Setidaknya Ia akan kembali pulang padaku"
"Hey, kau diduakan. Kau masih bisa sesantai ini?"
"Aku tidak sedang diduakan, itu hanya 'Jika' saja, yakan?"
"Terbuat dari apa hatimu? Baja? Mengapa tamengnya sebegitu keras?"
"Haha.. Aku tidak tahu jelas komposisi hatiku, yang aku tahu tameng yang melindunginya dalah cinta dan kepercayaan"
"Jika dia meninggal, bagaimana? sedangkan dia jauh, bagaimana jika kau tak tahu?"
"Aku bisa merasakannya"
"Manusia bukan robot.. Tak mungkin kau bisa langsung tahu.. Jarak kalian.."
"Itu namanya kontak batin, Tak perlu menyewa detektif untuk tahu sedang apa dia sekarang, Pekan dia kecelakaan saat mengendarai motor barunya. dan aku langsung tahu. Cinta itu ajaib. Kau harus mempercayainya"
"Tidak.. cinta bukan satelit yang mau menghubungkan..."
"Cinta tak perlu satelit, Ia memiliki Kontak batin. Radar."
"Radar? itu hanya film, jangan bodoh!"
"Cinta memang membuatku bodoh. Lalu bagaimana hubunganmu dengan tetanggamu itu?"
"Kami putus, Kemarin."
"Karena? Padahal kalian baru 1 tahun, dan tak ada jarak yang memisahkan kalian"
"Jarak yang tak terlihatlah yang memisahkan kami"
"Apa?"
"Kepercayaan"
"Aku dan dia sudah 6 tahun, dengan ribuan kilometer yang membentang antara kami, dan sampai saat ini kami bahkan masih jauh lebih romanis dari kalian dulu.Maaf. Aku tidak suka Hubunganku diRemehkan. Kekuatan jarak tak pernah main-main kawan!"


Gaje -_-"

hari ini, aku melihatmu.
Kau yang dulu selalu kulihat dari balik tirai.
Tak berani aku menampakkan diriku di hadapanmu secara langsung.
Mungkin perasaanku kepadamu bukanlah apa-apa bagimu. tak berarti. Dan kau takkan peduli.Tapi, hari ini kutunjukkan pada dunia, aku bisa!.
Aku, melihatmu. bernyanyi dari balik jendela dekat panggung.
Ya! Aku melihatmu, Salahkan aku jika aku terlalu berambisi.
Salahkan aku jika aku terlalu terobsesi.
Dan aku patut menyalahkanmu, atas perasaan tak berdasar yang telah kau tempelkan direlungku.

Ini kisahku, yang selalu mengagumimu.
Entah seperti apa kisahmu.
Kau terlalu sulit ditebak
Sulit direka
dan tentu saja
Terlalu sulit digenggam

#eaaa

My promise, Dad Mom :*

Hari sabtu depan..
Ayah.. Ibu..
Sekali lagi aku tak bisa membuat kalian bangga
Berdiri disana dengan wajah sumringah
menerima piagam rangking
Belum bisa kuwujudkan
Maaf aku tak bisa menjadi anak yang membuat kalian bangga
Maaf aku tak bisa membuat kalian bahagia
Maaf aku tidak bisa menjadi anak yang sempurna
Anak yang selalu bisa membuat orang tuanya
Merasa bangga
Dan bahagia..
Meski mustahil mengulang semuanya dari awal
Dengan setiap detik yang tersisa
Kan kubuat kalian bangga
Seperti dulu..
Seperti ketika aku menjadi #01
Roda pasti berputar betulkan?
Aku yang dulu adalah seorang anak dengan predikat #01
sekarang? Aku adalah anak dengan peringkat #11
Nanti? Aku adalah anak yang membuat dunia tercengang
Hingga semua mata tak mampu berkedip
Kalian, orang tuaku tak akan berhenti disanjung
Dunia kan tahu siapa kalian
Dunia akan mengakui hebatnya kalian
Dunia akan menyanjung kalian
Lebih dari menyanjung dewa-dewa dilangit
Aku hanya pergi sementara
Dari tempatku berdiri dulu
Aku akan kembali
Kembali membuat kalian bangga
Dan tentu saja bahagia..

PENGORBANAN?

Perasaan ini terlalu rumit jika hanya diungkapkan melalui frasa-frasa kata
Perasaan ini bahkan Einsten sekalipun takkan mampu merumuskannya
Perasaan ini begitu nyata namu berada dibilik rumus ketidakpastian
Hati ini adalah tempatmu berpulang bukan untuk sekedar singgah
****
10 Oktober 2012
            Senja hari ini kembali mebuat Dira mengingat kenangan-kenangan indahnya, kenangan indah yang telah Ia lewati kuranglebih delapan tahun dengan Ramon. Yahh..delapan tahun mereka bersama taka ada yang tahu mereka bisa bertahan selama itu, bahkan sekuat apapun orang-orang memisahkan mereka, sekuat itu pula mereka bertahan ,layaknya karang yang dihempas ombak. Meski merekapun pada akhir masanya akan berakhir seperti karang terkikis, termakan ombak yang tak pernah pantang menerjang.
            Sejumput memori berkelebat diotak Dira, seulas senyum bermekaran dari bibirnya ketika kenangan itu kembali hadir menyita waktu yang ia miliki…
****
10 Oktober 2002
            “Ahh..Dila lama banget sih!”Dira menggerutu.Sendiri. Saat ini Ia sedang menunggu saudara kembarnya yang sejak tadi pergi ketoilet. Semua orang dibandara telah menatapnya denga tatapan bingung.Ia tidak peduli.
Nadira Fahrezee Yafuzen, seorang gadis tomboy yang sangat sangat cuek, ia tak pernah memperhatikan atau bahkan mendengar apapun yang orang katakan padanya entah itu celaan atau bahkan pujian sekalipun. Ia tak peduli dan tak mau tahu. Bebeda seratus delapan puluh derajat dengan Nadilah Fahzera Yafuzan, gadis yang sangat-sangat feminim ini adalah kembar edentik dari Dira, jika melihat sikap dan watak mereka takkan ada yang tahu jika mereka terlahir dari satu keluarga yang sama bahkan untuk berfikir seperti itupun mungkin tidak.
            “Dir.. heii” Teriak Dila dengan senyum tak tertahankan setelah melihat kembarannya yang satu itu sedang duduk dikursi dengan mengangkat sebelah kakinya.
            “Lama amat sih kamu, capek tau nungguinnya, ngapain aja sih ditoilet?”Celetuk DIra saat melihat Dila
            “perbaikin make-up dong tadi bedak gue agak luntur..”
            “bla.. bla..blaa.. segala hal tentang perempuan yang nggak pernah bisa gue ngerti apapun alasannya penampilan harus segitu pentingnya yah? gue seumur hidup aja nggak pernah nikmatin terlahir jadi cewek, yang harus inilah itulah beginilah begitulah….”Potong Dira.. namun..
Brukkk..
            “Aww… punya matakan?Liat-liat dong kalo mau nabrak!”Cerocos Dira tanpa melihat siapa yang telah menabraknya. Seorang cowok berkecamata, Dasi rapi, kerak terkacing , sepatu mengkilap, dan rambut yang tersisir rapi. Jelas bukan tipe Dira, terlalu memperhatikan penampilan dan orang ini terlihat …. Perfeksionis.
            “Maaf saya terlambat, ada yang perlu saya ganti?Berapa?” terlihat pria itu mengeluarkan dompetnya.“Saya tidak bisa berlama-lama, jika tidak penting saya akan pergi sekarang, dan jika ini kurang. Hubungi saya, ini kartu nama saya..”
            “what the…..”Aliran darah Dira mencapai ubun-ubun.“Lo fikir gue apaan? Bayar? Sok kaya banget lu! Cuihh..tampang anak mami gitu sok lu, gue nggak butuh uang. Bahkan gue bisa beli otak lo yang nggak bisa mikir”
            “Maksud anda?Disini saya bersikap baik. Anda jangan macam-macam..”
            “Maaf yah..mas kakak saya ini memang emosian, lagi capek juga. Baru abis take off tadi, saya Dila ini kakak saya Dira” Sambung Dila yang langsung menjabat tangan pria yang kini berada dihadapan mereka.Tanpa persetujuan empunya tangan.
Terlihat pria yang kini dihadapan mereka sedang memperbaiki kacamatanya. “Kalian..”sambil menunjuk keduanya bergantian “Twin ?”
            Dan hari itu berakhir dengan mereka bertiga berbincang menatap senja.Setelah beberapa kegiatan pria yang ternyata bernama Ramon itu diCancel.Ramon dan Dila cepat akrab, bahkan sepertinya Dila mulai menyimpan rasa pada Ramon, entah sebaliknya.
****
Dira kembali tertawa miris, hari itu tepat 10 tahun yang lalu Ia tak pernah berfikir akan bertemu dengan Ramon. Apakah ini yang namanya takdir?Hari itu, seakan seluruh isi bumi bersekongkol mempertemukan mereka.Meski Dira saat itu tidak memiliki rasa apapun pada Ramon bahkan untuk berfikir untuk bisa menjadi satu-satunya wanita yang dicintai Ramon pun tidak.Ia bukannya takut bermimpi, tapi, Ramon dan Dila saat itu …
****
Tiga bulan setelah pertemuan mereka…
            “Dirr..Ramon nembak gue, gue terima gak yah?”
            “Terserah lo lah, kok nanyanya sama gue” Jawab Dira Cuek tetap focus dengan buku bacaan yang kini Ia genngam.
            “Ya Udah gue terima aja deh…”
            “Terserah lo aja”
            “Dir.. emang elo nggak punya perasaan apa-apa sama Ramon?”
            “Nggak lah, nggak doyan gue sama tipe gituan”
            “Maksud lo?”
            “Cowok metropolitan, penyembah kesempurnaan.Ah ennek gue.”
            “elo.. masih doyan cowok kan Dir?”
            “Anjritt lo!”
Setelah itu mereka tertawa bersama, tertawa lepas.Meski Dila tidak sadar ada derai air mata penyesalan dimata Dira yang menetes tak tertahankan.
****
Hari itu..
            Segalanya telah berubah di hidup Dira, Ia tak lagi memiliki kembar, Dila bunuh diri setahun  lalu akibat mengetahui bahwa ternyata Ramon, pria yang selama ini ia puja ternyata tak mencintainya, tapi mencintai saudaranya.Dira tentu saja siapa lagi.Dila mengetahui semuanya entah bagaimana Dirapun tak tahu semuanya seolah berjalan sangat cepat.Hingga Ramon menyatakan cintanya dan Dira mengatakan “Iya”.
            Segalanya tampak hitam dimata Dira.Keluarga tak ada yang menyetujui hubungan mereka bahkan Tuhanpun tidak mereka berdua berbeda agama. Ramon memeluk Hindu dan Ia memeluk Katolik. Menagpa cinta selalu dipisahkan oleh hal-hal yang sangat tidak Ia pahami?Apa hanya karena tempat ibadah yang berbeda mereka harus saling berpaling? Ereka hanya sekedar jatuh cinta sedosa itu kah?.
            Dira sempat mengutuk Dirinya sendiri Dila digelapkan oleh cintanya pada Ramon.Ia merasa bersalah tak lagi bisa bernafas dengan tenang, pancaran wajah Dila yang selalu Ia lihat melewati cermin. Ia kini mencoba menghadirkan Dila dalam dirinya. Memakai aksesoris seperti Dila, memakai Rok seperti Dila, bahkan menjadi heboh seperti Dila . Meski lebih sulit dari yang Ia pikirkan. Ia bukanlah sosok yang terlahir ceria dan peduli akan bedak, lipgloss, eye shadow yang memudar dan lainnya.
            Sagalanya seperti senja dimata Dira.Ia kini tak bisa hidup tanpa Ramon tidak detik depan, detik selanjutnya menit selanjutnya bahkan sepersekian detik. Bahkan membayangkannyapun tidak mampu.
10 Januari 2004
            “Dir aku udah suka sama kamu bahkan waktu di Airport , aku fist sight sama kamu, mungkin ini yang orang bilang cinta pada pandangan pertama”
            “Tapi, Mon, kamu..Dila kan pacarann?” Ada sesak saat Dira mengatakan hal itu, entah  apa Ramon menyadarinya atau tidak.
            “Itu karena aku kira, kamu nggak suka sama aku DIr, I just..ahh!.. Aku Cuma mencari baying-banyang kamu dari sosok Dila. Aku nggak pernah bisa mencintai Dila seperti Aku mencintai kamu Dir”
            “Teris? Sekarang kamu udah tau semuanyakan?Apa lagi?”
            “Just be my girl “
            “Backstreet? Dari Dila? No! Dia itu saudar aku satu-satunya, aku nggak akan ngecewain dia apapun yang terjadi” Saat Dira mengatakan itu, dibalik tembok ada sesosok bayangan yang menyunggingkan senyum, bahagia.
            “Sampai kapan kamu mau ngalah Dir! Aku cinta sama kamu, bukan sama Dila. Bahkan jika ada seribu Dila aku pasti hanya akan memilih kamu”
            “Cinta tak selamanya harus saling memiliki , Ramon. Aku jatuh cinta, bukan berati harus kumiliki.Seperti melihat barang yang kusuka di sebuah toko, sesuka apapun aku.Aku belum tentu bisa memilikinya” Mendengar itu bayangan dibalik tembok kembali tersenyum.Lalu pergi.Ia .Dila. Telah mengikuti Dira dan Ramon sejak tiga jam  yang lalu. Merasa puas dengan apa yang telah Dira jawab. Ia tau saudara kembarnya takkan menghianatinya. Dila tahu, Dira pasti tau bahwa Ia sangat mencintai Ramon. Meski Dila tak tahu, Cinta Dira terhadap Ramon jauh lebih besar dari dirinya.
            “pliss Dir..”
            “Maaf Mon, Aku nggak bisa. Mungkin nggak hari ini”
            “Aku ngerti. Maaf udah ngenyianyiain waktu kamu”
            “Nggak Ramon, Aku senang kamu ngungkapin semuanya. Meski sedikit terlambat”
Drtt…drttt..
Handphone Ramon bergetar.Sebuah pesan singkat. Dari Dila
From : Dila
Aku tahu apa yang kamu lakuin sekarang. Ramon. Aku akan buat hati aku adalah jalan pulang buat kamu bukan hanya sekedar persinggahan. Apapun yang kamu lakukan sekarang, aku harap kamu nggak berhasil.Cinta itu rumit Ramon.Ia membutuhkan satu tumbal agar ada dua manusia yang bahagia jangan sepelekan itu.
****
Dirangat semuanya, Apakah Dila tahu tumbal itu bukanlah Dira atau bahkan Ramon.Dila nmemutuskan menjadi tumbal demi kebahagiaan Dira dan Ramon.Bunuh diri. Dila telah mengikhlaskan Ramon, Namun tetap tak bisa hidup melihat satusatunya orang yang ia sayangi malah hidup bersama saudaranya sendiri. Cinta membutakannya.Ia lebih memilih mati. Air mata kembali menetes dipipi Dira. Andai saja Dila masih hidup ia tak akan merasa kesepian seperti ini, Akan ada yang mengoceh panjang tentang segala hal tentang perempuan. Dunia perempuan. Dunia yang dulu tak tersentuh oleh Diira, Dunia yang coba ia masuki setelah mennggalnya Dila, Dunia yang kini ia huni. Sendiri.
            Ramon, orang yang menyatakan cointanya kembali kepada Dira.Jauh sebelum Dila meninggal.Pergi menyusul Dila.Sebegitu tidak setujukah engkau Tuhan?Aku hanya jatuh cinta.Semuanya tampak seperti Senja dimata Dira. Terang menyilaukan Namun tak akan bertahan lama. Mau tidak mau. Gelap akan segera dating menghampirinya.

TAMAT